Sindrom Stevens-Johnson: Kenali Bahaya, Gejala, dan Pertolongan Pertama
- Pixabay
Padang – Di dunia medis, ada kondisi langka namun serius yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan medis darurat: Sindrom Stevens-Johnson (SJS).
Kondisi ini merupakan reaksi alergi parah yang memengaruhi kulit dan selaput lendir, termasuk di mata, mulut, tenggorokan, dan organ intim.
Meskipun jarang terjadi, SJS bisa berkembang dengan cepat dan menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani segera.
Sindrom Stevens-Johnson adalah reaksi hipersensitivitas parah yang umumnya dipicu oleh obat-obatan tertentu, meskipun dalam beberapa kasus juga bisa disebabkan oleh infeksi.
Pada SJS, sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap pemicu, menyerang sel-sel kulit dan selaput lendir seolah-olah itu adalah zat asing berbahaya.
Akibatnya, sel-sel tersebut mati, menyebabkan lapisan kulit terkelupas dan membentuk lepuhan yang menyerupai luka bakar.
Ketika kondisi ini menjadi lebih parah dan melibatkan lebih dari 30% permukaan kulit, ia disebut sebagai Nekrolisis Epidermal Toksik (TEN), yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi.
SJS dan TEN sering dianggap sebagai bagian dari spektrum penyakit yang sama, hanya berbeda dalam tingkat keparahan area kulit yang terlibat.
Gejala SJS seringkali dimulai dengan tanda-tanda yang mirip flu, sehingga sulit dibedakan pada awalnya. Namun, dalam beberapa hari, gejala akan memburuk dengan cepat:
Gejala Awal (1-3 hari sebelum ruam muncul): Demam tinggi, nyeri tenggorokan, batuk, mata terasa terbakar, nyeri otot, dan kelelahan.
Gejala Kulit dan Selaput Lendir:
Ruam Kulit: Muncul ruam merah atau ungu yang menyebar cepat, terutama di wajah dan dada, lalu ke seluruh tubuh.
Lepuhan (Bula): Ruam berkembang menjadi lepuhan atau gelembung berisi cairan yang kemudian pecah, meninggalkan luka terbuka yang sangat nyeri.
Pengelupasan Kulit: Lapisan kulit atas (epidermis) mulai terkelupas dari lapisan di bawahnya.
Lesi pada Selaput Lendir: Luka, borok, dan lepuhan yang sangat nyeri muncul di bibir, di dalam mulut, tenggorokan, hidung, mata, dan area genital. Ini bisa menyebabkan kesulitan makan, minum, dan buang air kecil.
Mata Merah dan Nyeri: Mata menjadi sangat merah, nyeri, berair, sensitif terhadap cahaya, dan bisa menyebabkan penglihatan kabur atau bahkan kerusakan permanen jika tidak diobati.