Kisah Unik Makanan Cuanki
- istockphoto
Padang – Cuanki merupakan salah satu kuliner legendaris khas Bandung yang hingga kini masih digemari berbagai kalangan. Makanan sederhana berbahan dasar olahan ikan ini bukan hanya terkenal karena rasanya yang gurih, tetapi juga karena sejarah dan filosofi di balik namanya.
Cuanki mulai dikenal luas di Bandung sejak era 1980-an. Makanan ini berkembang di kalangan masyarakat menengah ke bawah karena harganya yang terjangkau dan mudah dijajakan. Dahulu, cuanki sering dijual menggunakan gerobak dorong atau dipikul oleh pedagang keliling, menyusuri gang-gang kecil dan lingkungan sekolah.
Seiring waktu, cuanki tidak hanya menjadi jajanan pinggir jalan, tetapi juga masuk ke kedai hingga restoran modern. Meski begitu, cita rasa tradisionalnya tetap dipertahankan.
Nama “Cuanki” diyakini merupakan singkatan dari “Cari Uang Jalan Kaki”, sebuah istilah yang menggambarkan perjuangan para pedagang cuanki yang berjualan dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Filosofi ini mencerminkan semangat kerja keras dan kemandirian masyarakat Sunda.
Pedagang baso cuanki
- IST
Cuanki biasanya disajikan dengan kuah bening gurih yang ringan. Isinya terdiri dari bakso ikan, tahu goreng, tahu putih, siomay kukus, dan pangsit. Sebagai pelengkap, cuanki diberi taburan bawang goreng, daun seledri, serta sambal dan kecap sesuai selera.
Saat ini, cuanki tidak hanya ditemukan di Bandung, tetapi juga di berbagai kota besar di Indonesia. Inovasi pun bermunculan, mulai dari cuanki frozen hingga cuanki dengan kuah pedas dan topping modern, tanpa meninggalkan identitas aslinya.