Film Ke Surau, Aku Kembali Mulai Diproduksi  

Proses Produksi Film Ke Surau, Aku Kembali
Sumber :
  • S Metron

Padang – Film berjudul Ke Surau, Aku Kembali, kini sudah mulai diproduksi. Film fiksi besutan sutradara Adi Osman ini, berkisah soal perjalanan seorang pemuda ke surau-surau tua di Kabupaten Agam, Payakumbuh, dan 50 Kota. Setelah kembali dari perjalanan itu, ia lalu berupaya menghidupkan kembali Surau di Kampungnya.

img_title Patroli Dini Hari di Padang: 11 Orang Terjaring Razia Satpol PP

Adi Osman menyebut, film ini dibuat karena saat ini sudah banyak yang mulai terlupakannya dari nilai-nilai sejarah yang ada pada surau dan sasaran. Surau kini, lebih cenderung menjadi tempat ziarah saja. 

“Hal penting dari surau dan sasaran ialah bagaimana kondisi dan relevansinya dengan kultur hari ini. Meskipun pada dulunya merupakan tempat menghasilkan orang-orang "besar" dari Sumatera Barat, hari ini hanya menjadi situs ziarah orang-orang,” kata Adi, Senin 5 Desember 2022. 

img_title Gubernur Mahyeldi Besuk Ketua MUI Sumbar, Korban Kebakaran KMP Batumandi di RS Medika Cilegon

Karena itu, Adi menggarisbawahi bahwa, selain sebagai tempat ziarah, surau juga harus dilihat kembali sebagai suatu tempat berkembangnya berbagai macam ilmu pengetahuan sepanjang ia relevan dengan masa kini. 

“Film yang tengah diproduksi ini mencoba mencari peluang dan relevansi surau dan sasaran hari ini. Bagaimana situs ziarah itu dikelola dan bagaimana sejarah dan sistem pendidikannya bisa menjadi pengetahuan penting di masa sekarang.

img_title Legislator Sumbar Soroti Sawit Ilegal di Bekas Karhutla Dharmasraya: Jangan Dianggap Sepele!

“Kita dan tim sudah di beberapa lokasi di Agam dan 50 Kota, dengan melibatkan aktor lokal serta sumber daya lokal lainnya,” ujar Adi. 

Surau dan Sasaran SebagaI Subjek Wisata 

Selain sebagai situs ziarah, menurut Adi, surau hari ini juga mulai dilihat sebagai situs wisata. Hanya saja, paradigma pariwisatanya masih belum tepat. 

Sutradara S Metron Masdison mengatakan, selama ini Surau dan Sasaran dipandang sebagai objek wisata belaka, bukan subjek wisata. 

“Padahal seharusnya Surau dan Silek itu menjadi subjek wisata. Maksudnya, ia tidak hanya jadi tontonan wisata yang pasif, namun juga bisa menjadi ruang untuk belajar mengenai banyak sekali hal,”ujar Metron.

Metron menegaskan, Ibarat mata air, surau dan sasaran adalah tempat yang tak akan kering-kering ilmunya jika kita timba. Ia pun berharap, dengan dijadikannya surau dan sasaran subjek wisata, maka ia bisa berkembang lebih jauh menjadi wisata religi sekaligus wisata edukasi histori serta mengandung unsur adventure. 

Halaman Selanjutnya
img_title