Wamendikdasmen Sebut Semangat Buku Max Havelaar Sangat Relevan dengan Pancasila
- Kemendikdasmen
Padang – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, melakukan kunjungan kerja ke Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Senin kemarin.
Kunjungan ini dilakukan usai dirinya bertindak sebagai Pembina Upacara pada Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 yang dipusatkan di Alun-Alun Rangkasbitung.
Dalam kunjungan tersebut, Wamendikdasmen didampingi oleh Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Kehadiran mereka di museum ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali relevansi nilai-nilai Pancasila sekaligus memperkuat pemahaman sejarah bagi generasi muda.
Selama meninjau berbagai ruang pameran, Fajar Riza Ul Haq mendapatkan pemaparan mendalam mengenai sejarah Multatuli serta jejak rekam tokoh-tokoh nasional yang memiliki keterkaitan erat dengan Kabupaten Lebak.
Bonnie Triyana, yang juga dikenal sebagai sejarawan sekaligus penggagas berdirinya Museum Multatuli, turut memberikan penjelasan mengenai koleksi dan narasi sejarah yang tersaji di sana.
Usai berkeliling, Wamendikdasmen menekankan bahwa mahakarya karangan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli memiliki benang merah yang kuat dengan ideologi negara.
Kritik sosial yang dilayangkan lewat buku tersebut dinilai masih sangat kontekstual dengan kondisi bangsa saat ini.
“Semangat yang dituangkan dalam buku Max Havelaar sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Pesan-pesan kemanusiaan itu penting untuk terus kita rawat dan aktualisasikan dalam kehidupan berbangsa saat ini,” ujar Fajar Riza Ul Haq.
Lebih lanjut, Fajar menyoroti posisi strategis Kabupaten Lebak sebagai wilayah yang memiliki kekayaan sejarah luar biasa di Indonesia.
Selain menjadi saksi bisu dari sejarah perlawanan Multatuli, tanah Lebak juga menyimpan jejak perjuangan sejumlah tokoh besar bangsa, seperti Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka, hingga Maria Ulfah.
Menurutnya, sejarah besar kelokalan tersebut tidak boleh menguap begitu saja dan harus terus dihidupkan sebagai memori kolektif bangsa.
Pengetahuan ini dinilai sangat krusial, terutama bagi kelompok usia muda yang masuk dalam kategori Generasi Z dan Generasi Alpha.