Teror Pocong yang Terus Dipelihara: Saat Mitos dan Takhayul Lebih Laku Dibanding Sains
- AI
Padang – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh merebaknya isu teror pocong di sejumlah daerah. Fenomena yang awalnya dianggap sebagai angin lalu ini terus bergulir, memicu kepanikan warga, hingga memakan porsi pemberitaan yang cukup besar. Namun, di balik riuhnya perbincangan tersebut, para pakar sosiologi dan pengamat kebijakan publik mulai menyuarakan keprihatinan yang mendalam. Mereka menilai, pemeliharaan isu mistis dan tradisional seperti ini merupakan indikator kuat bahwa masyarakat belum sepenuhnya siap menyongsong era modern berbasis rasionalitas.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa fenomena teror pocong yang terus diproduksi dan dikonsumsi secara masif merefleksikan adanya krisis nalar di tengah masyarakat. Menurutnya, sebuah negara tidak akan pernah benar-benar maju jika energi kolektif bangsanya habis terkuras untuk merespons isu-isu takhayul yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
"Bagaimana kita bisa bicara tentang digitalisasi, kecerdasan buatan, atau kompetisi global jika diskursus publik kita masih didominasi oleh ketakutan terhadap hantu? Ini adalah kemunduran berpikir yang nyata," ujar Hermawan saat diwawancarai di Jakarta, Sabtu (6/6).
Hermawan menambahkan, ada kecenderungan kuat di mana isu mistis sengaja dipelihara oleh pihak-pihak tertentu demi mendulang keuntungan pribadi, baik berupa klik di media digital maupun pengalihan isu sosial-ekonomi yang lebih mendesak. Ketika masyarakat disibukkan dengan ronda malam mencari pocong, mereka melupakan esensi penting seperti peningkatan kualitas pendidikan, literasi digital, dan perbaikan taraf hidup.
Dampak dari terus dipeliharanya mitos tradisional ini tidak bisa diremehkan. Pola pikir yang terbiasa mencari penjelasan mistis atas setiap fenomena sosial cenderung melahirkan masyarakat yang pasif dan fatalistik. Ketika terjadi masalah keamanan atau kriminalitas, masyarakat lebih memilih mengaitkannya dengan hal gaib alih-alih mengevaluasi kinerja aparat hukum atau sistem keamanan lingkungan.
Pakar psikologi sosial, menjelaskan bahwa ketakutan yang diproduksi oleh isu teror pocong dapat mengikis daya kritis generasi muda. Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memvalidasi takhayul, kemampuan mereka untuk berpikir analitis dan skeptis secara sehat akan tumpul sejak dini. Padahal, pondasi utama kemajuan sebuah negara adalah inovasi dan riset ilmiah yang menuntut logika tanpa batas.