Kondisi Terkini Aktivitas Gunung Marapi Sumatera Barat
- Adriana Adie
Padang – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi merilis evaluasi berkala tingkat aktivitas Gunung Marapi di Sumatera Barat untuk periode 16 hingga 31 Juli 2026.
Berdasarkan hasil pemantauan komprehensif, status aktivitas gunung api tersebut ditetapkan bertahan pada Level II (Waspada).
Secara visual, puncak Gunung Marapi teramati mengeluarkan asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang.
Hembusan asap kawah tersebut membumbung tinggi antara 50 hingga 400 meter di atas puncak Kawah Verbeek.
Data instrumental merekam kembali adanya satu kali Gempa Letusan pada akhir Juli 2026 setelah sempat absen selama kurun waktu satu bulan.
Selain itu, instrumen mencatat 19 kali Gempa Hembusan, 35 kali Tremor Non Harmonik, serta puluhan gempa vulkanik dan tektonik.
Pemantauan data deformasi menggunakan tiltmeter memperlihatkan kecenderungan deflasi atau penurunan tekanan pada medium tubuh gunung.
Meskipun demikian, nilai variasi kecepatan seismik yang masih bernilai negatif mengindikasikan struktur medium dangkal tubuh gunung api masih belum stabil.
PVMBG menilai secara umum aktivitas Gunung Marapi cenderung mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, namun proses degassing atau pelepasan gas masih aktif.
Dinamika suplai fluida maupun magma dari kedalaman diperkirakan masih berlangsung sehingga potensi erupsi susulan tetap terbuka.
Selama tidak terjadi lonjakan suplai magma yang signifikan, ancaman bahaya utama diperkirakan berupa lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Potensi bahaya tersebut diproyeksikan berada dalam radius bahaya utama sejauh 3 kilometer dari Kawah Verbeek.
Masyarakat juga diimbau mewaspadai potensi bencana sekunder berupa ancaman banjir lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung. Selain itu, bahaya paparan gas-gas vulkanik beracun masih mengintai di area kawah puncak.
Atas evaluasi tersebut, PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, pendaki, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Peringatan ini wajib dipatuhi guna mengantisipasi ancaman lontaran material pijar secara mendadak.
Warga yang bermukim di bantaran sungai aliran Gunung Marapi diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras turun di wilayah puncak.
Apabila terjadi hujan abu vulkanik, warga disarankan menggunakan masker guna mencegah gangguan saluran pernapasan akut (ISPA).