Ketimpangan Karakter Windi dan Tika, Komedi Yang Mengaburkan Protagonis di Pementasan Babi Babu

Pementasan Babi Babu
Sumber :
  • Iis Wulandari

Kehadirannya Tika pada pertunjukan ini begitu hidup. Dia mampu membangun interaksi yang memikat penonton hingga menjadikannya magnet utama pementasan. 

Kritik Seni Pesta Rakyat Dalam Rangka HUT TNI 79 Di Silang Monas Jakarta

Sedangkan Khalida, selaku Nyonya, juga menambah warna lewat peran yang sarat humor, memperkuat dominasi komikal di atas panggung.

Kekurangan dalam artikulasi dan proyeksi suara Windi dalam pertunjukkan ini, menjadi hambatan serius. Ketika emosi dan dialog yang ia bawakan tidak sepenuhnya sampai ke penonton, karakter Windi pun kehilangan daya tarik. 

Menyigi Simbolisasi Trauma dalam Gerak dan Sunyi Jejak Tak Terlihat

Penampilan Windi seperti terjebak dalam bayang-bayang kejayaan pemeran pendukung. Pertunjukkan ini pun terkesan menyisakan kekosongan yang terasa dalam jalannya cerita.

Dalam seni pertunjukkan, vokal menjadi salah satu elemen utama yang sangat penting. Tika selaku pelayan 2 mampu menunjukkan kekuatan vokalnya yang jelas. 

Malin Bukan Anak Durhaka: Antara Lirih dan Dilema dalam Monolog Malin Kundang

Sangat kontras dengan Windi, meskipun yang bersangkutan berusaha memainkan peran dengan sepenuh hati. Lagi-lagi, ia belum mampu mengatasi dominasi Tika yang sangat kuat. 

Ketidakmapuan Windi dalam mengimbangi Tika, berujung pada ketidakseimbangan dalam pementasan. Penonton lebih tertarik dengan Tika daripada Windi. 

Halaman Selanjutnya
img_title