Malin Bukan Anak Durhaka: Antara Lirih dan Dilema dalam Monolog Malin Kundang
- Iis Wulandari
Padang – Selasa, 3 Desember 2024, panggung Gedung Arena Mursal Esten di ISI Padang Panjang menjadi ruang bagi interpretasi baru dari legenda Malin Kundang.
Melalui monolog bertajuk Malin Kundang Lirih, Karya Pandu Birowo, pementasan Fajar Eka Putra mampu membuka celah yang selama ini tertutup rapat oleh narasi lama, sebuah perjalanan batin seorang anak lelaki Minang yang selama berabad-abad dilabeli sebagai anak durhaka.
Dalam balutan monolog yang sunyi namun penuh lirih, Fajar menghipnotis dan membawa penonton menyelami jiwa seorang Malin yang akhirnya bersuara.
Bukan untuk membela diri, melainkan untuk mengisahkan sebuah dilema antara tuntutan adat, kerinduan akan ibu, dan stigma yang diwariskan zaman.
“Akulah yang akan bicara, telah sekian lama kau bungkam dan tak kau perbolehkan aku bersuara,” demikian kata-kata Malin menggema, membuka perjalanan emosional yang mendalam.
Pementasan Malin Kundang Lirih
- Iis Wulandari
Berbeda dengan cerita yang sering di dongengkan oleh seorang Ibu kepada anaknya yang mengkontruksi Malin sebagai anak durhaka, pertunjukan ini menawarkan perspektif yang baru, menggali lebih dalam konflik batin yang ada dalam diri Malin Kundang.
Malin, yang lahir dan besar dalam budaya Minangkabau, kental dengan adat-istiadat, harus menanggung beban stigma sebagai anak durhaka dari pandangan orang-orang di luar sana yang selama ini tak mampu ia bantah.