Waspada, Aktivitas Seksual Berlebihan Bisa Picu Pecah Jantung, Ini Penjelasannya
- Istock Photo
Padang – Sktivitas seksual, terutama yang intens atau dilakukan dalam kondisi stres tinggi, dapat memicu peningkatan drastis pada detak jantung, tekanan darah, dan konsumsi oksigen miokard.
Bagi individu yang sudah memiliki penyakit jantung bawaan, penyempitan pembuluh darah koroner, atau faktor risiko lain seperti hipertensi, lonjakan stres fisik ini bisa berakibat fatal, yaitu memicu serangan jantung (infark miokard) atau bahkan aritmia yang mematikan.
Risiko jantung menjadi lebih tinggi ketika aktivitas seksual disertai dengan lonjakan emosi atau stres yang ekstrem.
Dalam kondisi ini, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dalam jumlah besar. Kelebihan hormon ini bisa menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai Kardiomiopati Takotsubo atau yang populer disebut "Sindrom Jantung Patah."
Kondisi ini menyebabkan sebagian bilik kiri jantung melemah dan "pecah" akibat tekanan hormon stres.
Meskipun jarang, Takotsubo dapat meniru gejala serangan jantung yang parah dan bahkan menyebabkan pecah jantung mendadak pada pasien yang rentan.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa bagi kebanyakan orang sehat, aktivitas seksual yang dilakukan secara teratur adalah aman dan bahkan bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskular.
Bahaya besar umumnya mengintai mereka yang jarang berolahraga (gaya hidup sedentary), berusia lanjut, dan mereka yang sudah didiagnosis memiliki penyakit jantung.
Untuk orang berisiko, aktivitas fisik yang intens, termasuk seks, harus dibicarakan dengan dokter.
Batas aman yang sering digunakan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas fisik setara dengan menaiki dua anak tangga tanpa merasa sesak napas atau nyeri dada.
Penting untuk mengenali gejala yang menjadi sinyal bahaya selama atau setelah aktivitas seksual.
Segera hentikan dan cari bantuan medis jika Anda mengalami nyeri dada (angina), sesak napas yang parah, pusing mendadak, atau palpitasi (jantung berdebar kencang) yang tidak normal.
Gejala-gejala ini dapat menjadi indikasi awal serangan jantung atau krisis hipertensi. Mengabaikan gejala ini, lalu melanjutkan aktivitas berlebihan, dapat meningkatkan risiko kerusakan fatal pada otot jantung.
Pada akhirnya, risiko kematian akibat aktivitas seksual yang berlebihan sangat rendah pada populasi umum, namun meningkat tajam pada individu dengan faktor risiko yang sudah ada.