Festival Maek 2024 Resmi di Helat
- Padang Viva
Baginya Lembah Maek, ibarat permata tersembunyi yang menyimpan kisah-kisah agung dari peradaban kuno.
"Melalui riset yang penuh ketekunan dan semangat, kami berhasil menyibak tabir misteri yang menyelimuti artefak-artefak, struktur-struktur megah, serta jejak-jejak kehidupan yang memberi kita gambaran akan kekayaan masa lampau," kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand itu, Rabu (17/07/2024).
Ia juga berterima kasih pada masyarakat Maek, yang dengan kehangatannya dengan senang hati bekerja sama.
Festival ini turut menghasilkan dua buku dari empat orang seniman. Mereka adalah Iyut Fitra dan Yudilfan Habib yang menulis "Maek Memantul Dalam Puisi dan Prosa."
Serta Widi Adrianto dan Satria Putra dalam karya, "Maek Cerita Dibalik Sketsa."
Para seniman yang sudah berkontemplasi selama berbulan-bulan dengan alam Maek ini akan mempresentasikan karya-karya mereka dalam sesi diskusi di hari kedua.
Mereka bakal membahas berbagai hal terkait karya yang dihasilkan mulai dari proses hingga siasat dan strategi mereka ketika hendak merespon Maek secara kreatif.
"Kami berharap, buku ini bukan sekadar panduan, namun juga menjadi jendela yang membuka cakrawala pengetahuan dan inspirasi bagi Anda semua," ucap Donny.
Ia juga berharap seluruh rangkaian Festival Maek turut mendukung agenda pemajuan kebudayaan, utamanya di Maek.
Festival dibuka oleh seni pertunjukan ‘Mimetik Sulbi (Hikayat Batu Tegak)’, karya duet dramaturg S Metron Masdison dan Zuari Abdullah dengan Andre Junaidi sebagai pengisi musik.
Pementasan ini ingin mereplikasi peristiwa paling sublim dalam sejarah Maek. Batu Tegak.
Pertunjukan ini dibawakan oleh sekelompok pemuda yang membopong batu besar serupa menhir. Diiringi seorang "janang" (narator) yang membawakan prolog berbahasa minang.
Para pemuda itu kemudian mamaek (memahat) batu tersebut. Dalam pertunjukan ini koreografer Jefriandi Usman (Indonesia), Bianca Sere Pulungan (Jerman), dan Janette Hoe (Australia), berkolaborasi dengan 20 anak nagari Maek.