Kampus UIN Padang Digoyang Isu Kasus Kekerasan Seksual

Ilustrasi Kekerasan Seksual. Sumber Foto/Pixabay
Sumber :

Padang – Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang, Sumatra Barat digoyang isu kasus kekerasan seksual. Mencuatnya persoalan ini bermula ketika ratusan mahasiswa melakukan unjuk rasa pada Rabu 23 November 2022 didepan gedung Rektorat. 

img_title Modus Ajak Jalan-Jalan dan Bawa Anak di bawah Umur ke Rumah Kosong, Pemuda 18 Tahun Diamankan Polisi Sijunjung

Aksi massa yang berdemonstrasi lalu mengajukan berbagai tuntutan. Salah satunya, tentang laporan adanya dugaan kekerasan seksual di lingkungan kampus. 

Ulva Salsabilah yang merupakan Menteri Advokasi Hukum dan HAM Dema UIN IB Padang saat itu menyampaikan bahwa pihaknya menerima banyak informasi dan laporan mahasiswi yang mengalami pelecehan seksual oleh oknum Dosen

img_title Polres Solok Selatan Buru Pelaku Persetubuhan Anak dan Usut Pengancaman Sajam oleh Orang Tua Pelaku

Setidaknya kata Ulva, ada Tiga orang yang sudah mengantongi alat bukti. Bentuk pelecehan yang diterima berupa menyentuh tubuh tanpa izin, tidak hanya dikelas tapi juga memanfaatkan momen ketika bimbingan skripsi diluar kampus dan ada juga dengan cara mengajak karaokean dan berenang. Akibat relasi kuasa tersebut akhirnya membuat korban diam. 

Isu dugaan kekerasan seksual ini pun sampai ke meja Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang. Penanggung jawab isu minoritas rentan LBH Padang, Decthree Ranti Putri menyebut hingga kini pihaknya masih belum menerima laporan resmi dari para korban.

img_title LBH Padang Kecam Penghentian Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Polwan oleh Perwira Polda Sumbar

Ilustrasi Kekerasan Seksual. Foto/Pixabay

Photo :
  • -

"Belum, kita masih mengupayakan advokasi ke korban,"kata Decthree Ranti Putri, Jumat 25 November 2022.

Decthree Ranti Putri bilang, kasus kekerasan seksual lantaran paradigma masih menganggap kejahatan seksual merupakan aib bagi korban dan adanya relasi kuasa yang semakin melanggengkan kekerasan seksual terus terjadi, menyebabkan kasus ini kadang sulit diungkap. 

Terlebih lagi kata Ranti Putri, korban tidak mampu menghadirkan bukti otentik lainnya. Namun demikian, hal ini tidak boleh dibiarkan saja karena semakin membuat predator seksual semakin meningkatkan eskalasi kekerasan seksualnya. 

"Bisa saja semula melakukan pelecehan seksual namun juga bisa meningkat ke pencabulan dan juga perkosaan,"ujar Ranti Putri. 

Ranti Putri melanjutkan, kampus seharusnya pro aktif untuk melakukan investigasi dan pemantauan atas informasi yang disampaikan tersebut (dugaan kekerasan seksual). Bahkan, perlu disikapi segera dan bukan hanya menunggu laporan saja dari mahasiswa. 

Kampus kata Ranti Putri, bisa membuka kanal pengaduan agar mempermudah pelaporan korban. Dengan catatan, tetap menjaga kerahasiaan dan melindungi korban dari serangan balik pelaku dan kemudian melakukan proses etik di tingkat kampus terhadap pelaku. 

Halaman Selanjutnya
img_title