MASA Site-Specific Performance di Menhir Maek

Pertunjukkan di Festival Maek
Sumber :
  • Padang Viva

Para penari pun masuk ke area situs. Sebagian membawa obor, sebagian hanya melenggang dengan selendang disampirkan di bahunya, selendang merah, biru, jingga, dan oranye. Sebagian berkostum serba putih, lainnya berkostum warna merah dan hitam.

img_title Lagu Cinto Balain Raso David Iztambul: Ratapan Patah Hati Berbalut Pop Minang

“Masyarakat Maek adalah salah satu masyarakat paling beruntung di dunia. Mereka hidup bersama, berdampingan, dengan cagar-cagar budaya warisan leluhur.” kata Janette Hoe, koreografer dari Australia.

Dalam diskusi itu, Janette Hoe, Bianca Sere Pulungan, Jeffriandi Usma, dan Sendi Oryzal, berbagi banyak hal soal proses serta konsep pertunjukan kolaborasi bertajuk “MASA” di sebuah MTSN yang dua ruang kelasnya disulap menjadi ruang seminar dan diskusi.  

img_title Membedah Makna Lagu 'Malam Bainai' Karya Karim Nur: Air Mata di Balik Kemeriahan Adat Minang

Di samping membahas segi koreografi, mereka juga berkali-kali menekankan pentingnya ‘menghidupkan’ cagar-cagar budaya seperti menhir dengan seni pertunjukan.

Amanat Janette memang jeli. Di samping rumah, di samping dapur, di pekarangan, di halaman sekolah, menhir-menhir berdiri dengan agung. Pemandangan ini terhampar di seantero Maek. 

img_title Mengenal Sampelong, Alat Musik Tiup Purba Minangkabau yang Masih Eksis

Masyarakat banyak yang bercerita, dulunya jumlah menhir di Maek sangat amat banyak. Namun sebagiannya diambil untuk digunakan sebagai batu pondasi sekolah-sekolah dan bangunan umum. 

Bahkan satu kompleks menhir yang dirobohkan lalu ditimbun untuk dijadikan lapangan sepakbola. Dan proses desakralisasi itu bukanlah sepenuhnya kesalahan masyarakat. Mari campakkan bersama-sama asumsi orientalis yang tak berdasar itu bahwa masyarakat itu bodoh!

Fenomena desakralisasi ini terhenti di tahun 2010-an karena adanya undang-undang perlindungan cagar budaya. Dan desakralisasi itu, tentu berhubungan erat dengan terputusnya koneksi atau hubungan masyarakat pada masa itu dengan leluhur yang mendirikan dan mengukir menhir-menhir itu. 

Serangkaian penelitian arkeologi yang telah berlangsung sejak pertengahan 1980-an di kawasan itu, seperti gagal menyebarkan hasil penelitiannya secara komprehensif ke masyarakat pemilik cagar budaya itu sendiri.

Padahal, menimpali amatan Janette, masyarakat Maek memang beruntung. Menhir-menhir Maek, betul-betul menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ia bukan semacam cagar budaya mahasuci yang terkonsentrasi di satu titik; ia juga bukan suatu area eksklusif di mana hanya lapisan sosial tertentu yang berhak membangun koneksi dengannya.

Halaman Selanjutnya
img_title