MASA Site-Specific Performance di Menhir Maek

Pertunjukkan di Festival Maek
Sumber :
  • Padang Viva

Tidak hanya lewat koreografi tapi juga musik. Sebagian peserta telah menguasai dasar-dasar musik, mereka mengambil peran sebagai pemusik dengan Sendi Oryzal sebagai fasilitator.  

img_title Lagu Cinto Balain Raso David Iztambul: Ratapan Patah Hati Berbalut Pop Minang

Sebagian besarnya, yang tertarik untuk menjadi penari, sama sekali belum pernah bersentuhan dengan tari. Merekalah yang dimentori oleh Jeff, Bianca, dan Janette.

Para penari belajar gerak-gerak dasar, ketubuhan, dan seterusnya, sementara para mentor belajar kepada mereka secara langsung atau tidak langsung tentang budaya Maek dan akhirnya tubuh Maek itu sendiri.

img_title Membedah Makna Lagu 'Malam Bainai' Karya Karim Nur: Air Mata di Balik Kemeriahan Adat Minang

Para pemusik menyebar ke penjuru nagari. Mereka mengumpulkan cerita-cerita rakyat tentang asal mula Maek dari para tetua. Hasilnya mereka padatkan menjadi lirik di atas tadi, didiskusikan bersama Sendi guna diolah dan dijadikan ‘roh’ karya musik yang akan mereka garap bersama.

Setelah berproses selama kurang lebih dua bulan (secara online dan offline), jadilah karya pertunjukan bertajuk “MASA”. Jeff, Janette, dan Bianca, akan menari bersama  Inggid Yeli Algi, ⁠Aisyah Nurmala, Anggin Yetriska, Virdani, ⁠Widuri Febrika Sari, Azzahra Salshabilla, M. Aidin Ardinal, ⁠Cherly Yulia Ghafar, Dela Sevana, Peza Pramana Putra, ⁠dan Nizia Marnila Sari.

img_title Mengenal Sampelong, Alat Musik Tiup Purba Minangkabau yang Masih Eksis

Festival Maek

Photo :
  • Padang Viva

Lahirlah karya kolaborasi bertajuk “MASA”

Sendi juga menamai komposisi musiknya dengan nama yang sama dibantu Andre Dwi Wibowo. Mereka berdua berkolaborasi dengan  Febi Juliko, yang menggubah lirik, dan memainkan talempong.

Pandu Winata yang memainkan rabab dan gendang; M Danel dan Fito Septriawan membuat alat musik pukul serupa kentongan dari bambu; serta  Zahrati Saslabilah yang akan mendendangkan lirik gubahan Febi sembari ikut memainkan telempong.

Sejak rangkaian penelitian di pertengahan 1980-an yang hasilnya tidak tersampaikan ke masyarakat itu, berbagai asumsi berkembang di masyarakat. Siapa para pendahulu yang mendirikan menhir-menhir itu? Bagaimana mereka hidup? Adat apa yang mereka pakai?.

Begitu banyak cerita tentang umur peradaban dan asal-usul manusia Maek. Begitu banyak asumsi soal kaitan Maek dengan sistem adat Minangkabau dan bahkan asal-usul masyarakat Minangkabau itu sendiri.

Ini adalah situasi yang tak menentu, yang sampai batas tertentu menimbulkan semacam kegelisahan yang dipicu rasa kehilangan dan keterputusan dengan masa lalu. Mengutip catatan kuratorial, peradaban Maek itu sendiri adalah suatu terra incognita.

Halaman Selanjutnya
img_title