Festival Maek: Menyatukan Seni dan Budaya 

Workshop Kekaryaan Festival Maek
Sumber :
  • Padang Viva

Padang – Masyarakat Maek kini tengah sibuk mempersiapkan Festival Maek. Bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, digelar Workshop Kekaryaan selama 3 hari mulai dari 8 hingga 11 Mei 2024 di Nagari Maek, Kecamatan Lima Puluh Kota

img_title Kementerian Ekraf dan UNP Kolaborasi Gelar MASAMO 2026 untuk Dorong Kuliner Sumbar Naik Kelas

Workshop Kekaryaan ini, diadakan guna menyiapkan beberapa karya seni pertunjukan yang akan ditampilkan pada puncak acara Festival Maek, 17 sampai 20 Juli 2024 mendatang.

Dalam workshop ini 20 pemuda dan pemudi ‘negeri seribu menhir’ akan berkolaborasi dengan koreografer Jerman Bianca Sere Pulungan. Koreografer Jefriandi Usman koreografer dan musisi Sendi Orysal juga terlibat dalam workshop ini.

img_title Bupati Eka Putra Dukung Penuh Pembangunan Rumah Gadang IKTD Kota Tanjung Pinang

Mereka akan berkolaborasi dengan pemuda-pemudi Maek memainkan pertunjukan yang diangkat dari narasi-narasi sejarah dan budaya yang ada di Maek, terutama terkait menhir.

Bianca Sere Pulungan, misalnya, mengajak anak nagari Maek berkolaborasi untuk merancang karya tari kontemporer yang akan dipentaskan di sekitar situs menhir.

img_title Gunung Marapi Tetap di Level II, Kegempaan Vulkanik dan Tektonik Masih Terekam

“Saya bayangkan nanti lahir semacam seni instalasi yang bergerak. Saya juga akan upayakan agar anak-anak lepas dari estetik tari yang biasa, mengajak mereka mengeksplor gerak tubuh yang bebas” kata koreografer Bianca Sere Pulungan, Kamis 9 Mei 2024

Ia juga mengakatan karya ini adalah upaya eskplorasinya atas hasil interpretasinya terhadap sejarah dan kebudayaan Maek. Karya ini, lanjutnya, juga berangkat dari hubungan tubuh anak-anak dengan anak lainnya, hubungan anak-anak dengan sejarah dan situasi budaya Maek hari ini.

“Karya ini bisa dikatakan semacam translasi dari hubungan-hubungan tersebut”, ujarnya.

Sendi Orysal juga mengatakan hal senada. Ia bilang ingin mengeksplorasi kemisteriusan menhir dan tebing-tebing eksotis yang mengurung Maek menjadi musik.

“Maek adalah peradaban tua yang penuh misteri, dengan menhir-menhir dan panorama alamnya. Ini sangat menarik untuk diolah menjadi musik,” kata Sendi.

Menhir-menhir warisan peradaban masa lalu di Maek memang mengandung banyak cerita yang belum terungkap. Banyak kisah tersimpan di baliknya. Para peneliti misalnya, mengatakan bahwa menhir bukan benda mati belaka. Lebih dari itu, ia punya kisah panjang, bagian dari perkembangan sejarah yang panjang.

Selain untuk menyimbolkan kematian, mennhir juga menyimbolkan kehidupan. Selain digunakan sebagai nisan, menhir juga dibangun untuk menandakan lahirnya seorang anak.

Halaman Selanjutnya
img_title